Patahan Aktif Buru dan Flores Sumber Pembangkit Gempa di Maluku Mencapai 7.4 Magnitudo


AMBON - BERITA MALUKU.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh pakar gempa, Terdapat beberapa patahan aktif menjadi sumber pembangkit gempa di Maluku, yaitu di Buru dengan kekuatan, Buru Utara, dan Flores backarc thrust Wetar.


Ketiganya berada di zona merah, dengan jenis kekutan berbeda-beda, untuk Buru bisa mencapai 7.4 magnitudo dengan pergerakan 5 milimeter per tahun, Buru Utara 7.0 magnitudo dengan pergerakan 5 milimiter per tahun, flores backarc thrust wetar 7.5 magnitudo dengan 5.18 milimiter per tahun.

"Sumber gempa itu apabila garis merah mengalami pergerseran, jadi lantai dasar laut naik, ada yang turun maka apabila kekuiatannya mencapai 7 magnitudo bisa terjadi tsunami," ungkap Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam kunjungan kerja di Ambon, Jumat (03/09/2021).

Untuk itu, menurutnya perlu dilakukan mitigasi sejak dini, sehingga jika sewaktu-waktu sumber pembangkit mengalami pergeseran, kemudian terjadi Gempa disertai Tsunami, tidak ada korban jiwa.

"Kebanyakan kekuatan mencapai 7.4 sampai 7.6 magtitudo sehingga perlu diwaspadai apakah bangunan vital yang ada di Maluku sudah didesain tahan terhadap gempa, misalnya kami mengunjungi RS yang ada di tepi pantai, berada di endapan lunak, pasir halus, ini juga mohon dipastikan desainnya," pinta Dwikorita dalam rapat dipimpin Plh Sekretaris Daerah Maluku, Sadli Lie.

Ia mencotohkan, seperti di Yogyakarta yang berada di daerah pasir rawan gempa bahkan lebih tinggi 8.7 magnitudo, namun pemerintah Yogyakarta membangun bandara termegah di indonesia sudah menerapkan sistim penerapan tsunami, jadi bandara dibangun untuk menahan gempa lebih dari 8 magnitudo.

"Kalau di Maluku ketinggian tsunami tertinggi 9 meter, Yogyakarta sampai 15 meter, sehingga bandara dibuat tiga lantai, lantai 1 ditabrak tsunami, lantai 2 disiapkan untuk evakuasi mencapai 10 ribu orang, jadi seperti itulah yang kami sampaikan, yang penting bangunan itu menahan gempa," tuturnya.

untuk itu, dirinya meminta dinas PUPR untuk melakukan pengecekan terhadap struktur bangunan, jika belum memenuhi syarat, maka harus perlu dilakukan rekayasa untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan.