Merger BSI Berpotensi Timbulkan Monopoli, Mudharat atau Manfaat?

 

KPPU mengatakan merger tiga anak usaha BUMN syariah menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) berpotensi menimbulkan praktik monopoli.(ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA).

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan merger tiga anak usaha BUMN syariah menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) berpotensi menimbulkan praktik monopoli. Pasalnya, hal ini akan mengganggu persaingan usaha di sektor perbankan syariah.
BSI adalah hasil merger tiga anak usaha BUMN, yakni PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT Bank BNI Syariah.

Ketua KPPU Kodrat Wibowo mengatakan pihaknya telah memanggil Kementerian BUMN dan direksi BSI untuk membahas hal tersebut. Mereka membahas dalam rapat koordinasi (rakor) pada pekan lalu.

Menurutnya, penguasaan pasar secara berlebihan akan berbahaya bagi industri. Hal ini khususnya bagi pasar perbankan syariah.

"Karena hasilnya ada yang teranalisa penguasaan pasar relevan perbankan syariah berpotensi praktik monopoli," ucap Kodrat.



Berdasarkan catatan KPPU, pangsa pasar BSI mencapai lebih dari 50 persen di dalam pasar perbankan syariah. Meski begitu, Kodrat menyebut pihaknya mempersilakan BSI melanjutkan operasi bisnisnya.


CNNIndonesia.com sudah mengonfirmasi hal ini kepada Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga. Namun, ia mengatakan akan mengecek informasi ini terlebih dahulu.

"Saya cek," katanya.

Lihat Juga :
Pengusaha soal Dine In Resto 50 Persen: Cukup Membantu
Redaksi juga telah menanyakan hal ini kepada Direktur Utama BSI Hery Gunardi. Ia mengatakan akan menjelaskan hal ini setelah rapat.

"Sebentar ya, setelah meeting saya jawab," kata Hery.

Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan BSI pada awal Februari 2021 lalu. Total aset BSI saat diresmikan sebesar Rp240 triliun, total pembiayaan sebesar Rp157 triliun, dana pihak ketiga (DPK) Rp210 triliun, dan modal inti Rp22,6 triliun.